Abstraksi Hati

Aksara sudah tidak dapat meredam emosi. kini saatnya kutumpahkan sampai puas hati. Dasar kau “Hieroglyph”.

Enyah kau bayangan palsu kehidupan. Tenggelam kau di palung terdalam. Hancurkan.. Buat jadi debu..

Sepihak, mungkin itu dia. Tapi, nyatanya aku yang salah terlebih dahulu. Meraih ranting lain sedangkan ranting satunya tetap kugenggam.

Bukan lagi jadi cerita, bukan sekedar angin lalu. “HAHA..” tawa gusar itu, menggema di telinga yang mulai merasa tuli akan desakan dari luar

Yang lalu, sudah berlalu. Coba rasakan kembali ! Jiwa ini, tak bisa. Tetap sulit menerima yang ada. Walau itu nyata.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s