Aksara sudah tidak dapat meredam emosi. kini saatnya kutumpahkan sampai puas hati. Dasar kau “Hieroglyph”.
Enyah kau bayangan palsu kehidupan. Tenggelam kau di palung terdalam. Hancurkan.. Buat jadi debu..
Sepihak, mungkin itu dia. Tapi, nyatanya aku yang salah terlebih dahulu. Meraih ranting lain sedangkan ranting satunya tetap kugenggam.
Bukan lagi jadi cerita, bukan sekedar angin lalu. “HAHA..” tawa gusar itu, menggema di telinga yang mulai merasa tuli akan desakan dari luar
Yang lalu, sudah berlalu. Coba rasakan kembali ! Jiwa ini, tak bisa. Tetap sulit menerima yang ada. Walau itu nyata.